ETIKA BERTAMU DALAM ISLAM

Adab Bertamu
A. Hadis Adab Bertamu

حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء حدثنا وكيع حدثنا عبدالحميد بن جعفر عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبي شريح الخزاعي قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( الضِيَافَةُ ثَلَاَثَةُ أَيَامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَلَا يَحِلُّ لِرَجُلِ مُسْلِمٍ أن يقِيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ ) قالوا يا رسول الله وكيف يؤثمه ؟ قال ( يقيم عنده ولا شيء يقريه به ) (روه مسلم)
Telah menceritakan kepada kami Abu Karib Muhammad bin Al-a`la’ telah menceritakan kepada kami waki’ telah menceritakan kepada kami Abdul hamid bin Ja’far dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-maqburiy dari Abi Syarih Al-Khaza’i berkata: Rasulullah. Saw. Bersabda: menjamu tamu itu adalah batasanya tiga hari, sedangkan memuliakanya adalah sehari semalam, Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya yang kemudian menyakitinya. Para shahabat bertanya: “Bagaimana bisa dia menyakitinya?” Beliau menjawab: “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.
B. Kandungan hadis
Tamu memang memiliki hak yang tinggi dalam syari’at agama Islam. Menyambut, memuliakan dan menjamunya merupakan syiar Islam yang harus dijaga. Dalam hadis di atas di jelaskan bahwa memuliakan tamu itu di batasi selama sehari semalam, sedangkan menjamu tamu itu batasanya tiga hari, karena jika brtamu melebihi batas seperti pastinya akan memberatkan tuan rumah dan menganggu aktifitasnya, karena tidak mungkin tuan rumah tidak memiliki kesibukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. disini Rasulullah mencontohkan kepada kita sebagai orang muslim harus memiliki kepribadian saling menghargai dan tidak boleh memberatkan kepada orang lain.
Meskipun disini membahas tentang etika bertamu, tetapi hadis ini bisa diaplikasikan dengan hal lain. Seperti halnya sebagai pribadi muslim yang baik itu dalam hal apapun tidak boleh memberatkan orang lain, tetapi harus meringankanya. Demikianlah dakwah yang diemban oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlaq dan adab umat manusia. “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita dalam keadaan yang tiada suatau perkara pun yang tidak dijelaskan, melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ilmunya kepada kita.
Bertamu adalah salah satu cara untuk menyambung tali persahabatan yang dianjurkan oleh Islam. Islam memberi kebebasan untuk umatnya dalam bertamu. Tata krama dalam bertamu harus tetap dijaga agar tujuan bertamu itu dapat tercapai. Apabila tata krama ini dilanggar maka tujuan bertamu justru akan menjadi rusak, yakni merenggangnya hubungan persaudaraan Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling mengunjungi atau bertamu, yang dikenal dengan isitilah silaturrahmi oleh kebanyakan masyarakat.
Walaupun sesungguhnya istilah silaturrahmi itu lebih tepat (dalam syari’at) digunakan khusus untuk berkunjung atau bertamu kepada sanak famili dalam rangka mempererat hubungan kekerabatan.Namun, bertamu, baik itu kepada sanak kerabat, tetangga, relasi, atau pihak lainnya, bukanlah sekedar budaya semata melainkan termasuk perkara yang dianjurkan di dalam agama Islam yang mulia ini.
Karena berkunjung/bertamu merupakan salah satu sarana untuk saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan terhadap sesama muslim.
Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Al Hujurat: 13)
Rasulullah bersabda:
إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ أَوْ زَارَهُ ، قَالَ اللهُ لَهُ : طِبْتَ وَطِابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مَنْزِلاً فِي الْجَنَّةِ (روه بخاري)
“Bila seseorang mengunjungi saudaranya, maka Allah berkata kepadanya: “Engkau dan perjalananmu itu adalah baik, dan engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di al jannah (surga).”
Namun yang tidak boleh dilupakan bagi orang yang hendak bertamu adalah mengetahui adab-adab dan tata krama dalam bertamu, dan bagaimana sepantasnya perangai (akhlaq) seorang mukmin dalam bertamu. Karena memiliki dan menjaga perangai (akhlaq) yang baik merupakan tujuan diutusnya Rasulullah , sebagaimana beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ (روه بخاري)
“Sesungguhnya aku diutus dalam rangka menyempurnakan akhlaq (manusia).”
Oleh karena itu, pada kajian kali ini, akan kami sebutkan beberapa perkara yang hendaknya diperhatikan dalam bertamu. Di antaranya sebagai berikut:
1. Beri’tikad Yang Baik
Di dalam bertamu hendaknya yang paling penting untuk diperhatikan adalah memilki i’tikad dan niat yang baik. Bermula dari i’tikad dan niat yang baik ini akan mendorong kunjungan yang dilakukan itu senantiasa terwarnai dengan rasa kesejukan dan kelembutan kepada pihak yang dikunjungi.
Bahkan bila ia bertamu kepada saudaranya karena semata-mata rasa cinta karena Allah dan bukan untuk tujuan yang lainnya, niscaya Allah akan mencintainya sebagaimana ia mencintai saudaranya. Sebagaimana Rasulullah :
زار رجل أخاً له في قريةٍ، فأرصد الله ملكاً على مدرجته، فَقَالَ : أَيْنَ تُرِيْدُ ؟ قَالَ : أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ. فَقَالَ : هَلْ لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا ؟ لاَ قَالَ : أُحِبُّهُ فِي اللهِ. قَالَ : فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ ، أَنَّ اللهَ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ (روه بخاري)
“Ada seseorang yang berkunjung kepada saudaranya di dalam suatu kampung, maka Allah mengirim malaikat untuk mengawasi arah perjalanannya. Ia (malaikat) bertanya kepadanya: “Mau kemana anda pergi? Ia menjawab: “Kepada saudaraku yang ada di kampung ini. Malaikat berkata: “Apakah dia memiliki nikmat (rizki) yang akan diberikan kepada engkau. Dia menjawab: “Tidak, semata-mata saya mencintainya karena Allah. Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya diutus oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu.”
2. Tidak Memberatkan Bagi Tuan Rumah
Hendaknya bagi seorang tamu berusaha untuk tidak membuat repot atau menyusahkan tuan rumah, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
ولا يحل لرجل مسلم أن يقيم عند أخيه حتى يؤثمه ) قالوا يا رسول الله وكيف يؤثمه ؟ قال ( يقيم عنده ولا شيء يقريه به ((روه مسلم)
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya yang kemudian menyakitinya. Para shahabat bertanya: “Bagaimana bisa dia menyakitinya?” Beliau menjawab: “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.” (HR. Muslim)
Karena keberadaan si tamu yang lebih dari tiga hari itu bias saja akan mengakibatkan tuan rumah terjatuh dalam perbuatan ghibah, atau berniat untuk menyakitinya atau berburuk prasangka (kecuali bila mendapat izin dari tuan rumah). Dan tidak mungkin tuan rumah itu tidak memiliki aktifitas lain, dan juga tidak mungkin seorang tuan rumah mengusir tamunya karena telah merepotkanya.

3. Memilih Waktu Berkunjung
Hendaknya bagi orang yang ingin bertamu juga memperhatikan dengan cermat waktu yang tepat untuk bertamu. Karena waktu yang kurang tepat terkadang bisa menimbulkan perasaan yang kurang baik dari tuan rumah bahkan tetangganya. Islam telah memberi bimbingan dalam bertamu, yaitu jangan bertamu pada tiga waktu aurat. Yang dimaksud dengan tiga waktu aurat ialah sehabis zuhur, sesudah isya’, dan sebelum subuh.
Dikatakan juga oleh shahabat Anas :
كَانَ رَسُولُ اللهِ لاَ يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلاً وَكَانَ يَأْتِيْهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً (روه بخاري)
“Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (HR. Bukhari)
Demikianlah akhlak Nabi , beliau memilih waktu yang tepat untuk mengunjungi keluarganya, lalu bagaimana lagi jika beliau hendak bertamu/mengunjungi orang lain (shahabatnya)? Tentunya kita semua diperintahkan untuk meneladani beliau .
4. Meminta Izin Kepada Tuan Rumah
Hal ini merupakan pengamalan dari perintah Allah di dalam firman-Nya :
     •              

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat.” (An Nur: 27)
Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan bimbingan kepada kaum mukminin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa seizin penghuninya. Di antara hikmah yang terkandung di dalamnya adalah:
Untuk menjaga pandangan mata. Rasulullah bersabda:
إِنَّمَاجُعِلَ اْلاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ (روه بخاري)
“Meminta izin itu dijadikan suatu kewajiban karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR.Bukhari )
Rumah itu seperti penutup aurat bagi segala sesuatu yang ada di dalamnya sebagaimana pakaian itu sebagai penutup aurat bagi tubuh. Jika seorang tamu meminta izin kepada penghuni rumah terlebih dahulu, maka ada kesempatan bagi penghuni rumah untuk mempersiapkan kondisi di dalam rumahnya tersebut. Sehingga tidaklah dibenarkan ia melihat ke dalam rumah melalui suatu celah atau jendela untuk mengetahui ada atau tidaknya tuan rumah sebelum dipersilahkan masuk.
Di antara mudharat yang timbul jika seseorang tidak minta izin kepada penghuni rumah adalah bahwa hal itu akan menimbulkan kecurigaan dari tuan rumah, bahkan bisa-bisa dia dituduh sebagai pencuri, perampok, atau yang semisalnya, karena masuk rumah orang lain secara diam-diam merupakan tanda kejelekan. Oleh karena itulah Allah melarang kaum mukminin untuk memasuki rumah orang lain tanpa seizin penghuninya.
Bagaimana Tata Cara Meminta Izin?
Dalam masalah meminta izin Rasulullah telah memberikan sekian petunjuk dan bimbingan kepada umatnya, di antaranya adalah:
a. Mengucapkan salam
Diperintahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, sebagaimana ayat di atas (An Nur: 27).
Pernah salah seorang shahabat beliau dari Bani ‘Amir meminta izin kepada Rasulullah yang ketika itu beliau sedang berada di rumahnya. Orang tersebut mengatakan: “Bolehkah saya masuk?” Maka Rasulullah pun memerintahkan pembantunya dengan sabdanya:
اخْرُجْ إِلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الاسْتِئْذَانَ ، فَقُلْ لَهُ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ ؟ (روه أبو داود)
“Keluarlah, ajari orang ini tata cara meminta izin, katakan kepadanya: Assalamu ‘alaikum, bolehklah saya masuk?
Sabda Rasulullah tersebut didengar oleh orang tadi, maka dia mengatakan:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟ (روه أبو داود)
Akhirnya Nabi pun mempersilahkannya untuk masuk rumah beliau. (HR. Abu Dawud)
Lihatlah, perkataan “Bolehkah saya masuk” atau yang semisalnya saja belum cukup. Bahkan Nabi memerintahkan untuk mengucapkan salam terlebih dulu.
Bahkan mengucapkan salam ketika bertamu juga merupakan adab yang pernah dicontohkan oleh para malaikat (yang menjelma sebagai tamu) yang datang kepada Nabi Ibrahim as. sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya (artinya): “Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam.” (Adz Dzariyat: 25)
b. Meminta izin sebanyak tiga kali
Rasulullah bersabda:
الاسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ (روه مسلم)
“Meminta izin itu tiga kali, apabila diizinkan, maka masuklah, jika tidak, maka kembalilah.” (HR.Muslim)
Hadits tersebut memberikan bimbingan kepada kita bahwa batasan akhir meminta izin itu tiga kali. Jika penghuni rumah mempersilahkan masuk maka masuklah, jika tidak maka kembalilah. Dan itu bukan merupakan suatu aib bagi penghuni rumah tersebut atau celaan bagi orang yang hendak bertamu, jika alasan penolakan itu dibenarkan oleh syari’at.
Bahkan hal itu merupakan penerapan dari firman Allah (artinya): “Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembalilah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An Nur: 28)
5. Mengenalkan Identitas Diri
Apabila tuan rumah belum tahu atau belum kenal, hendaknya tamu memperkenalkan diri secara jelas, Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya yang terkenal Riyadhush Shalihin membuat bab khusus, “ bahwasanya termasuk sunnah jika seorang yang minta izin (bertamu) ditanya namanya: “Siapa anda?” maka harus dijawab dengan nama atau kunyah (panggilan dengan abu fulan/ ummu fulan) yang sudah dikenal, dan makruh jika hanya menjawab: “Saya” atau yang semisalnya.”
ذهبت إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الفتح فوجدته يغتسل وفاطمة ابنته تستره فسلمت عليه فقال ( من هذه ) . فقلت أنا أم هانئ بنت أبي طالب فقال (روه بخاري)
Ummu Hani’, salah seorang shahabiyah Rasulullah mengatakan:”Aku mendatangi Rasulullah Saw. Saat tahun penaklukan, aku menjumpai beliau ketika beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau. Maka saya mengucap salam kepada beliau dan Beliau bersabda: “Siapa ini?” Aku katakan: “Saya Ummu Hani’.” (HR.Bukhari)
Demikianlah bimbingan Nabi yang langsung dipraktekkan oleh para shahabatnya, bahkan beliau pernah marah kepada salah seorang shahabatnya ketika kurang memperhatikan adab dan tata cara yang telah beliau bimbingkan ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jabir :
أتيت النبي صلى الله عليه و سلم في دين كان على أبي فدققت الباب فقال ( من ذا ) . فقلت أنا فقال ( أنا أنا ) . كأنه كرهها. (روه بخاري)
”Aku mendatangi Nabi , kemudian aku mengetuk pintunya, beliau bersabda: “Siapa ini?” Aku menjawab: “Saya.” Maka beliau pun bersabda: “Saya, saya..!!.” Seolah-olah beliau tidak menyukainya.” (HR.Bukhari)
6. Menyebutkan Keperluannya
Di antara adab seorang tamu adalah menyebutkan urusan atau keperluan dia kepada tuan rumah. Supaya tuan rumah lebih perhatian dan menyiapkan diri ke arah tujuan kujungan tersebut, serta dapat mempertimbangkan dengan waktu/ keperluannya sendiri. Hal ini sebagaimana Allah mengisahkan para malaikat yang bertamu kepada Ibrahim u di dalam Al Qur’an (artinya): “Ibrahim bertanya: Apakah urusanmu wahai para utusan?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa.” (Adz Dzariyat: 32)
7. Segera Kembali Setelah selesai Urusannya
Termasuk pula adab dalam bertamu adalah segera kembali bila keperluannya telah selesai, supaya tidak mengganggu tua rumah. Sebagaimana penerapan dari kandungan firman Allah : “…tetapi jika kalian diundang maka masuklah, dan bila telah selesai makan kembalilah tanpa memperbanyak percakapan,…” (Al Ahzab: 53)
8. Mendo’akan Tuan Rumah
Hendaknya seorang tamu mendoakan atas jamuan yang diberikan oleh tuan rumah, lebih baik lagi berdo’a sesuai dengan do’a yang telah dituntunkan Nabi , yaitu:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْ مَا رَزَقْتَهُمْ وَ اغْفِرْ لَهُمْ وَ ارْحَمْهُمْ
“Ya Allah…, berikanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau berikan rizki kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.” (HR. Muslim)
Demikianlah tata cara bertamu, mudah-mudahan pembahasan ini menjadi bekal bagi kita (kaum muslimin) untuk lebih bersikap sesuai dengan bimbingan Nabi dalam bertamu. Wallahu a’lam bis showab.

C. Kesimpulan
Bertamu adalah suatu kelaziman yang sudah menjadi budaya dalam bermasyarakat, dan merupakan sebuah anjuran dalam agama. dalam islam biasa disebut silaturahim. Karena itu perlu diperhatikan adab-adab bertamu yang telah di ajarkan Rasulullah, karena akhlak dalam islam mempunyai kedudukan yang sangat tinggi.
Sehingga masalah bertamu pun Nabi memberikan contoh yang sangat terperinci. Adab bertamu diantaranya yaitu: beri’tikad baik , tidak memberatkan tuan rumah yaitu tidak lebih dari tiga hari, memilih waktu untuk berkunjung, dan meminta izin kepada orang yang akan dikunjungi seperti mengucapkan salam, mengenalkan identitas diri, menyebut keperluanya, segera kembali apabila urusanya telah selesai, dan mendoakan tuan rumah.

Daftar pustaka
Shahih Muslim (Ar-Riyadh, Darussalam,1999)
Amir, Syarifuddin, ‘MUTIARA HADITS’’,PT. LOGOS ’(Jakarta: Wacana Ilmu.,1997),
Bukhari/Al-baniy Nshir Ad-din Shahih Adabu Al-mufrod Li Al-Bukhari ( Al-Jubay: Maktabah Ad-dalil, 1994)
Shahih Bukhari (Beirut: Dar Ibnu Katsir, , 2002)
Sunan Abu Dawud (Ar-Riyadh: Maktabat Ar-Rusyd, 1999)

ASBABU AN-NUZUL SURAT AL-HUJURAT

Ass. wr. wb.

Saya mau kutip sedikit saja.

Al-Qur’an Surat ke 49 : AL HUJURAAT berati KAMAR-KAMAR.

Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadalah.

Surat Al Hujuraat menerangkan tentang akhlak yang baik yang berhubungan dengan sikap orang mu’min terhadap Allah, Nabi Muhammad SAW, sikap mereka terhadap saudara-saudara mereka seagama, sopan santun dalam pergaulan dan pergaulan antar bangsa. Juga surat ini menerangkan bagaimana sikap orang-orang mu’min dalam menerima berita dari orang-orang fasik. Kemudian surat ini ditutup dengan menerangkan hakekat iman dan keutamaan amal orang-orang mu’min.

Dinamai “Al Hujuraat” diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini. Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad SAW yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya. Memanggil Nabi Muhammad SAW dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Pokok-pokok isinya :

1. Keimanan :

Masuk Islam harus disempurnakan dengan iman yang sebenarnya.

2. Hukum-hukum :

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul-Nya; keharusan meneliti sesuatu perkabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik; kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara; kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya terhadap golongan kaum muslimin yang lain; larangan mencaci, menghina, dsb; larangan berburuk sangka; bergunjing dan memfitnah dll.

3. Dan lain-lain :

Adab sopan santun berbicara dengan Rasulullah SAW. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal-mengenal; setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa; sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benarnya beriman.

Al-Qur’an Surat Al-Hujarat ayat 11dan 12 :
Bahasannya mengenai : Larangan memperolok-olokkan, banyak berprasangka dan lain-lain

(49:11)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri [1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

(49:12)
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

# [1410] “Jangan mencela dirimu sendiri” maksudnya ialah mencela antara sesama mu’min karana orang-orang mu’min seperti satu tubuh.
Beberapa ulama juga mengatakan bahwa, saling-menjatuhkan dengan perkataan maupun perbuatan sesama muslim juga termasuk hal yang dilarang, misalnya : menjelek-jelekkan perbuatan saudara muslim lainya padahal saudaranya itu sedang melaksanakan hukum-hukum atau perintah yang bersandar pada Al-Qur’an & Hadist, namun karena ketidak sukaan atau ketidak-tahuan orang tersebut kepada saudara muslimnya yang lain itu, mis; urusan pribadi/kelompok atau ilmu belum sampai kepadanya, maka segala sesuatu apapun yang diperbuat oleh saudara muslimnya (padahal ada sandaran dalilnya) tetap saja dicela dan dijelek-jelekkan.

# [1411] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.
Beberapa ulama juga mengatakan memanggil gelaran yang dengan maksud poyokan/ejekan juga tidak diperbolehkan, misalnya : seseorang tubuhnya “gendut” dipanggil si gembrot atau si gajah, seseorang “pesek” dipanggil dipesek atau sibemo, seseorang “jahil/bodoh” dipanggil si bego atau si bloon dan sebagainya, terlebih lagi panggilan yang menyakitkan hati orang yang dipanggil tersebut.

Ayat ke 12 :
Purba sangka, beberapa ulama mengatakan bahwa prasangka/kecurigaan/negative thinking kepada sesorang namun kecurigaan ini membabi-buta alias tidak memiliki data tentang apa yang dicurigai adalah termasuk hal dilarang, misalnya : seseorang berbuat baik di milis ini, kemudian serta merta seseorang yang lain mencurigai “jangan-jangan kebaikannya ini memiliki tujuan-tujuan tertentu”, tapi yang menuduh ini belum memiliki data apapun ttg tujuan-tujuannya yang dimaksud, langsung menuduh yang bukan-bukan. Inilah termasuk hal yang dilarang.
Akan tetapi bilamana yang menuduh/mencurigai ini sudah memiliki data-data atau pengalaman-pengalaman atau pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan orang yang dicurigai tersebut, maka ini bukan termasuk purba sangka, tetapi memberikan pelajaran bagi yang belum mengetahui tentang watak-watak orang yang dicurigai tersebut.

Demikian, mudah-mudahan sedikit (saja) membantu.
Kalau mau lebih banyak, maka silahkan datangi ikuti majlis taklim / pengajian tafsir (Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Jalalain dsb) di Masjid sekitar rumahmu, insya Alloh bisa didapat keterangan yang lebih memadai.

wassalam,